Palembang, 19 Agustus 2024 . Tanggal yang sangat ditunggu terkhusus santri PP al-Lhatifiyyah Palembang yang mengikuti ziarah walisongo, karena itu awal keberangkatan menyebrangi laut jawa. Dengan 4 pembimbing yaitu Ustad Lukman Hakim Husnan, Ustad Hupas Syari Burrohman, Ustad Prastyo yang biasa kami panggil Kak Hupas ataupun Kak Tio dan satu lagi Ustad Edi Paiman (Wa’, Kak ataupun Buya) iya itu panggilan kami kepada beliau. Beliau juga memiliki tanggung jawab masing-masing Ustad Lukman (Tawasul dan Do’a), Kak Hupas (Tahlil) selain itu Kak Hupas dan Kak Tio (Penunjuk Jalan) serta Ustad Lukman dan Buya Edi (Mengawasi kami dari belakang).
Malam sebelum keberangkatan kami serombongan ziarah ke makam KH.kgs.Nawawi Dencik al-Hafiz, beliau adalah Kyai sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren al-Lhatifiyah Palembang. Setelah Ziarah selesai kami diberi arahan oleh Ustad Lukman, mengenai mekanisme selama perjalanan nanti, salah satunya adab ( tata krama) ketika kita dimakam para wali dan Auliya’. Yang selalu beliau tekankan dan beliau ulang-ulang adalah Dilarang keras meminta (Berdo’a) kepada makam. Yang tepat adalah minta dan berdo’alah hanya kepada Allah, sembari ber-wasilah dengan orang yang terkait pada makam.
Senang, takut , gelisah hal itu yang bertabrakan dikepalaku, sebab frist time (pertama kali ) diri melabuhi pulau jawa, 23 tahun menginjak bumi sebagai keturunan jawa sayangnya belum pernah melihat bentuk ataupun kondisinya. sebagai pribadi yang mabuk kendaraan menjadikan was-was dan ketakutan semakin menggelora , hingga aku memutuskan untuk meminum obat darmamine (obat agar tidak mabuk perjalanan) 2-3 x dalam sehari, hal itu dilakukan kurang lebih selama 4 hari perjalanan, sedangkan pada hari 5-8 aku mencoba untuk tidak meminumnya, al hasil Alhamdulillah selalu dalam keadaan baik dengan ridha-Nya. Hal tersebut menambah keyakinan kepada yang maha menciptakan, ketika niat kita benar-benar lurus/ baik pasti Allah Swt mudahkan dan segala problem (permasalahan) pasti ada jalan keluarnya. Isi kepala terngiang dengan perkataan “Jangan Pernah mengatakan masalahmu besar, tetapi katakanlah Allah Swt yang Maha Besar” itu aku dapatkan ketika membaca buku ataupun mendengarkan Ceramah.
Malam pertama pun terlewati sampailah di tanah Jawa tepatnya Jawa Barat, Cirebon dengan kesadaran menurun karena terlelap dalam mimpi kami dibangunkan untuk melaksanakan Ziarah ke-1 Sunan Gunung Jati, sebelum turun kami diberitahu bahwa di sekitar makam tersebut terdapat banyak pengemis ataupun peminta yang kasar dan memaksa, bisa jadi jika tak memberi tangan akan dipegang bahkan ditarik , kamipun bersepakat untuk tidak memberi satupun dari mereka , jika salah satu diberi maka yang lain akan datang dan kami jadi kerumunan mereka. Ustad Lukman menjelaskan banyaknya pengemis disebabkan mereka yang salah mengartikan dawuh Sunan Gunung Jati “Ingsun nitip tajuq lan fakir miskin” (Aku titip masjid / mushala dan fakir miskin) sebuah pesan yang menggambarkan keseriusan Sunan Gunung Jati dalam merawat kesejahteraan moral dan sosial masyarakatnya.
Setelah Ziarah pertama selesai kami pun melanjutkan perjalanan menuju Ziarah ke-2 makam Raden Fatah, letaknya di Demak, Jawa Tengah. Raden Fatah memiliki nama asli Raden Hasan. Sebagai Sultan, beliau memiliki peran dakwah yang tak dapat diabaikan. Dalam serat Walisana disebutkan bahwa selain walisongo terdapat Wali Nukbah yang jumlahnya sangat banyak. Nama Raden Fatah termasuk dalam kategori ini dengan sebutan Sultan Syah Alim Akbar dan Panembahan Palembang.
Selanjutnya Ziarah ke-3 menuju Makam Sultan Kalijaga yang terletak di lingkungan Kadilangu Kab. Demak, Jawa Tengah. Sultan Kalijaga memiliki nama asli Raden Sahid. Ia merupakan anggota walisongo yang berpengaruh sangat besar dalam alam pikiran masyarakat Jawa.
Selanjutnya Ziarah ke-4 menuju Makam Sunan Kudus terletak Gg. Kauman, Pejaten, Kauman, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sunan Kudus memiliki nama asli Jakfar Shadiq. Ia terkenal sebagai sosok yang berpegang teguh kepada syariat . Ajarannya yang masih diamalkan oleh masyarakat kudus adalah larangan menyembelih sapi. Menurut beberapa pendapat, larangan ini berhubungan dengan penghormatan umat hindu. Pendapat yang lain menyebutkan larangan ini berkaitan dengan kisah Sunan Kudus yang pernah “ditolong” rombongan sapi saat tersesat di hutan.
Selanjutnya Ziarah ke-5 menuju Makam Sunan Muria yang letaknya di jl terminal wisata, Colo, Kec. Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said, Ia merupakan tokoh walisongo yang berusia paling muda. Di Gunung inilah Ia menjalankan dakwahnya. Menjauh dari hiruk pikuk duniawi apalagi politik. Di era yang sekarang sering disama kan dengan seseorang yang Introvet . Bisa dikatakan perjalan menuju Makam Sunan Muria sangatlah mengacu adrenalina karena jalan yang berkelok-kelok dan mamang ojek yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, setelah selesai Ziarah, kami pulang memilih berjalan menuruni tangga satu persatu. MasyaAllah mungkin itu kata yang selalu terucap ketika menuruni tangga yang sangat panjang yang tak tau dimana ujungnya, beristirahat sebentar duduk diantara tangga-tangga untuk mengisi daya agar sampai ketujuan. Ustad Lukman berucap kepada kami “Capek ya ? Gakpapa kalo kita gak berjalan kayak gini, gimana kita tahu perjuangan beliau dalam menyebarkan Agama Islam”. Selain itu juga beliau berkata “Ini semua buat pengalaman dan cerita kalian di masa depan”. Deep , Iya kata-kata itu masuk kerelung hati, kami sadar terlalu dimanjakan oleh kemajuan teknologi sekarang bisa dikatakan kurang menghargai sebuah proses dan mengerutkan kening ketika diajak sesuatu yang menguras tenaga. Dari perjalanan tersebut membuatku sadar, sesuatu yang dilakukan sekarang tidak ada apa-apanya dengan perjuangan beliau di masa lampau.
Perjalanan ke Ziarah 6 pun kami lanjutkan yaitu menuju Makam Sunan Bonang terletak di Dusun Kauman, Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Nama lain Sunan Bonang adalah Makhdum Ibrahim Maulana. Ia memiliki kesaksian dan Kedigdayaan yang sangat menakjubkan berhubungan dengan penguasaaanya tasawuf (terekat). Ia menulis Primbon Bonang yang berisi ajaran-ajaran tasawuf saripati dari Ihya Ulumiddin-nya Imam al-Ghazali. Ajaran Tasawuf yang lebih mendalam dibolehkan Sunan Bonang dalam Suluk Wujil.
Selanjutnya Ziarah ke-7 menuju Makam Syekh Ibrahim as-Samarqandi letaknya di Dusun Gesikharjo, Desa Gesik, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi merupakan ayah dari Sunan Ampel, Raden Muhammad Ali Rahmatullah, satu dari sembilan wali (Walisongo).
Ziarah ke-8 kami lanjutkan menuju Makam Sunan Drajat yang terletak Ds. Drajat, Kec. Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur.Raden Qosim merupakan nama lain dari Sunan Drajat. Ia terkenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Secara umum terdapat sejumlah ajaran beliau yang dikenal dengan Pepali Pitu (Tujuh Dasar Ajaran). Salah satunya yaitu “Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyup marang wong kang kudanan” ( Ajarkan ilmu pada orang yang tidak tahu, berilah makan pada orang yang lapar, berikanlah pakaian kepada orang yang tidak punya baju serta beri perlindungan kepada orang yang menderita).
Selanjutnya Ziarah ke-9 menuju Sunan Gresik terletak Jl. Malik Ibrahim No.52-62, Gapuro Sukolilo, Bedilan, Kec. Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Nama lain dari Sunan Gresik yaitu Maulana Malik Ibrahim. Cara dakwah beliau dikenal santun, ramah, tidak menyerang secara frontal keyakinan keagamaan masyarakat setempat . Selain berdagang, Ia juga ahli di bidang pengobatan dan cocok tanam. Menyediakan bahan makanan dengan harga yang murah serta pengobatan gratis. Perjalanan menuju Sunan Gresik mengharuskan kami menaiki kendaraan kembali bukan Bis mungkin kebanyakan orang sering menyebutnya angkutan umum. Setelah selesai ziaroh, karena adanya suatu rusoh kami tertinggal dari rombongan, panik dan takut pun tumbuh karena berdiri ditanah orang tak paham seluk beluknya. Hati terkejut bahkan terharu ternyata ada seorang pria berpeci yang setia menunggu, Iya kami biasa memanggilnya Kak Hupas. Seseorang yang mungkin kami tak saling mengenal tetapi dalam perjalanan itu berperan dengan sangat baik. Guru, Kakak bahkan teman itu kami rasakan. Lelah, Rungsang , ringam mungkin dirasakan, tapi tanpa sedikitpun keningnya mengerut pertanda marah malah terbentuk garis pipi serta celotehan yang membuat kami tertawa. Sosok yang jarang ditemui menunggu seseorang yang tak dikenal dengan sabar dan telaten serta mempercepat langkah ketika mencari lokasi dan memimpin tahlil mengatur posisi.
Ziarah ke-10 pun kami lakukan menuju Makam Sunan Giri terletak Jl. Sunan Giri, Pedukuhan, Kebomas, Kec. Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri sendiri memiliki nama asli yaitu Raden ‘Ainul Yaqin . Ia memiliki reputasi sebagai seorang ulama, selain itu Ia juga menjadi penguasa politik (Pandhita ratu). Gelar politiknya adalah Prabu Satmata.
Selanjutnya Ziarah ke-11 menuju Makam Syaikhona Kholil Bangkalan yang terletak Jl. Mertajasah, Tajasah, Mertajasah, Kec. Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Ia memiliki nama asli KH. Khalil bin Abdul Latif. Ia adalah keturunan dari Sunan Gunung Jati.
Ziarah ke-12 kami serombongan menuju Makam Sunan Ampel yang terletak Jl. Petukangan I, Ampel, Kec. Semampir, Kota Surabaya. Nama aslinya yaitu Ali Rahmatullah, yang kemudian bergelar Raden Rahmat. Ia adalah peletak pondasi Walisongo. Adapun strategi dan hal yang mungkin menjadi ciri dari Sunan Ampel adalah metode Mohlimo (5M) : Main (Judi), Minum (Mabuk), Maling (Mencuri), Madat (Candu), Madon (Bermain Perempuan). Mohlimo ini adalah adalah hasil adaptasi dari molimo yang diajarkan oleh ajaran Trantaisme yang kelak akan dipegang oleh Sunan Bonang. Sebelum turun untuk ziarah ke makam salah satu ustad kami melarang untuk berbelanja “Ndok, gak usah berhenti-berhenti (Belanja) ya, karena Schedule yang sangat padat”. Dari larangan itu satupun dari kami tidak ada yang mengeluarkan uang sepersepun . Terkhusus aku pribadi mengambil pelajaran dari peristiwa itu “sebenarnya setiap orang itu bisa mengontrol nafsunya masing-masing. Kita bisa memilah-memilah atau membuat skala prioritas berapa yang harus dikeluarkan.Mungkin awal-awal perlu sebuah paksaan tapi lama kelamaan pasti bisa berjalan dengan sendirinya”.
Sebelum melanjutkan Ziarah, kami serombongan diajak sowan ke kediaman ustad kami yaitu Ustad Lukman (Rumah yang merekam tumbuhnya beliau dari masa kecil hingga dewasa sebelum terdampar di Pulau Sumatera). Sebelum itu kami Ziarah ke Makam Ibu beliau (Rohlisah, Mak adalah panggilan sayang nya) sekilas diri memperhatiakan beliau, dengan suara terseduk melantunkan do’a kepada terkasih muka sanyu yang dibanjiri rasa rindu. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan, Di tengah perjalanan (Berjalan kaki) kami menelusuri jalan kecil dikelilingi tumbuhan hijau berseok debu lagi-lagi tertampar dengan perkataan beliau “kados pundi, perumahan kula estu taksih diperdesaan ta ! nanging mboten kalih pemikiranipun”. (Gimana, Rumah saya masih diperdesaan ta !, tapi enggak kan sama Pemikirannya). (Tertawa, Iya itu ciri khas beliau ketika mengakhiri sebuah candaan, ditampakkannya keceriaan tanpa berkurang).
Melanjutkan perjalanan ziarah ke-13 menuju Makam Gus Dur (Tebu Ireng). Speechless itu yang dirasakan ketika turun dari Bis, dari kejauhan ada seorang wanita yang memakai jubah hitam dengan Kerudung berwarna cream dan dikawal oleh dua orang laki-laki. Tatapanku semakin tajam, oh ternyata beliau. Iya beliau Bu Nyai dan ke-2 Putranya (Bu Nyai Lailatul Mu’Jizat al-Hafidzoh dan Gus Acan, Gus Najah ) menjemput kami Jauh dari Palembang ke Jombang, untuk sama-sama Ziaroh bersama di Makam Gus Dur. Di dalam Makam Gus Dur sendiri terdapat tiga Auliya’ yang cukup Populer hingga sekarang yaitu Makam Gus Dur sendiri, dengan nama aslinya KH. Abdurahman Wahid. Ia merupakan Presiden ke-4 RI yang memiliki pemikiran yang futuristik, sekaligus nyentrik , tetapi tetap dicintai karena dianggap sebagai pembela masyarakat yang tertindas sehingga beliau mendapatkan julukan sebagai bapak Pluralisme Indonesia. Yang ke-2 yaitu Makam KH. Hasyim Asy'ari. Beliau merupakan kakeknya sekaligus Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan yang ke-3 yaitu Makam Ayahnya KH.Wahid Hasyim. Setelah Ziarah selesai, kami serombongan melanjutkan perjalanan untuk Ziarah ke Makam Mbah Kakung (Ayah dari BuNyai yang bernama H.M. NoerSalim) lalu Sowan ke Ndalem BuNyai di Jombang. Lagi-lagi aku dicengangkan dengan keadaan disana, Kesederhanaan dan antusias beliau mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan kami.
Perjalanan Selanjutnya yaitu Ziarah ke- 14 Makam KH.M.Djamaluddin Ahmad. Beliau merupakan pengasuh Ribath Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Tambak Beras yang merupakan tempat Ustad Lukman menimba dan memperdalam ilmu Agamanya. Setelahnya, kami berjalan kaki menelusuri Kota santri menuju Makam KH. Wahab Hasbullah. Perjalanan yang cukup panjang jarak yang di tempuh kurang lebih 2-3 Km, tetapi itu salah satu perjalanan yang sangat dinikmati karena disepanjang perjalanan Ustad Lukman menjelaskan dan Memperkenalkan tempat-tempat yang kami lewati, selain itu tertawa didalam hati dan menggerakkan bibir sedikit menoleh kebelakang Ustad Hupas yang sangat antusias menggiring dan menjaga kami dalam perjalanan (seperti bapak yang siap siaga dalam segala keadaan). Selain itu Kak Tio dan Buya Edi yang siap siaga dibarisan belakang memeriksa dan menjaga kami ataupun barang kami yang kadang sering teledornya daripada telitinya. Ditulisan atas sedikit menjelaskan tanggung jawab beliau masing-masing, tapi selama perjalanan ini aku mengamatinya ternyata beliau tidak terpaku dengan apa tanggung jawabnya, semua dilakukan dengan tujuan untuk kebaikan dan kelancaran bersama. KH. Abdul Wahab Hasbullah merupakan salah satu murid kinasih dari Hadlratus Syaikh KH.Hasyim Asy’ari dan merupakan salah satu pahlawan Nasional Indonesia.
Selanjutnya Pagi hari kami Sowan kediaman Dr.KH. Mu’tashim Billah, SQ. M.Pd. I, adalah putera ke-6 dan penerus KH. Mufid Mas’ud pendiri PP. Sunan Pandanaran dan Yayasan Sunan Pandanaran dari Sleman, Yogyakarta. Karena tepat pada 24 Agustus 2024 beliau sedang sibuk mempersiapkan acara hanya beberapa orang saja (perwakilan) yang Sowan kesana. Sesudahnya kami melanjutkan Ziarah ke Makam KH.Mufid Mas’ud. Beliau merupakan pendiri PP Sunan Pandanaran. Disinilah entah kenapa aku tidak bisa melafalkan ayat-ayatNya , air mata bercucuran hingga do’a selesai terpanjatkan. Aku merasa dekat dengannya dan beliau sedang mendengarkanku. Iya itu mungkin salah satu sebab tiba-tiba mata berbanjiran air. Tak lama dari itu seseorang mendekat ke rombongan dan berkata “Monggo, sudah ditunggu Kyai Tasyim di Pondok”. Bergegas dan mempercepat langkah menemui beliau, duduk berdekat dengannya, wejangan yang kami terima membuat kami tak bisa berkata-kata dan lagi-lagi hanya mata yang berucap.
Meninggalkan PP Sunan Pandanaran Ziarah terakhir menuju Makam Gunung Pring terletak di Magelang, Jawa Tengah. Menurut Informasi yang saya baca beliau memiliki nama lain Kyai Raden Santri dan memiliki nama asli Pangeran Singasari, Ia memilih menyepi mendalami ilmu agama. Setelah lama mengembara, Sang Pangeran kemudian memutuskan bermukim di bukit hutan bambu, arah barat Gunung Merapi. Di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Pring (gunung bambu). Selain itu ada pendapat lain yang mengatakan Kenapa Raden Santri mendapat Julukan Gunung Pring , hal ini dikarenakan diakhiri Usia beliau dimakamkan di Bukit yang tidak seberapa tinggi memiliki gerumbul rumpun bambu yang sangat lebat. Dari kejauhan nampaklah sebuah gunung yang diselubungi rumpun bambu dan tempat inilah dikenal dengan Gunung Pring.
Disetiap perjalanan dan setiap Makam Sunan tentunya banyak hal Spritual ataupun non Spritual yang didapatkan, yang tak bisa diuraikan di dalam tulisan, banyak sedikit cukup mewakilkan.
Wisata yang dikunjungi setelah misi selesai membuat takjub keindahan alam dan kebesaran yang Maha Menciptakan. Perjalanan yang sangat mengesankan, Step by Step yang telah terlewatkan tak akan hilang dari ingatan. Banyaknya pengalaman dan kesan yang tak bisa diutarakan.
Diakhir perjalanan kami adanya sesi kesan pesan yang diutarakan setiap pribadi. Yang sangat terngiang di dalam benak pesan dari Ustadz (Ustadz Lukman Hakim Husnan) kurang lebihnya begini "Prihal sakit hati itu wajar namanya juga Manusia, 1-2 hari jadilah cepet obati jangan sampai membusuk". Pesan ini menurutku memiliki relasi dengan tulisanku sebelumnya Membenahi Kalbu yang isinya juga pesan dari beliau " Teruslah berbuat baik soal mereka suka ataupun tidak suka itu urusan mereka, Tugas kita hanya berbuat baik". Adapun pendamping kami yang lain (Kak hupas) beliau mengatakan dalam perjalanan ini sangatlah berkesan apalagi saat moment ketika sowan ke Ponpes Pandanaran beliau mengatakan baru pertama kali menangis dikeramaian terkhusus di depan santri putri. Untuk awal-awal masih tertahan. Qodratullah waktu bertemu Kyai Mu'tasim di kediaman beliau hati kami sangat terngeyuh sampai tak sadar dibanjiri air mata. Wejangan beliau tentang khidmat nya Seorang santri, barokah dan kemanfaatan ilmu itu didapat dgn berkidmat kepada guru. Adapun pesan beliau selama perjalanan yang kurang lebih 8 hari 7 malam ini yaitu melalui perjalanan ( rihlah) jejak auliya ini, semoga kita dan terkhusus pribadi semakin sadar bahwa perjuangan ulama terdahulu dalam membumikan dan menegakkan agama Allah penuh dengan semangat yang gigih ,tekad yg sangat kuat , memiliki perjuangan yang sangat tinggi dan pengorbanan yg tiada henti sehingga kepribadian tersebut dapat juga tertanam dalam diri kita semua. Aamiin ya Rabbal Alamin.
Akhir kata dari tulisan ini, Semoga Perjalanan yang sudah terlewati Berkah tanpa terkecualikan, Segala hajat yang dipanjatkan segera terkabulkan, dan kembali dipanggil Berziarah ketempat-tampat yang dimulaikan. Aamiin ya rabbal alamin.
Ziarah Walisongo
19 – 26 Agustus 2024.
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an al-Lhatifiyyah Palembang
Pondok Pesantren Ahlul Qur’an Palembang.