Amplop Kiai Nawawi


Ramadhan 1442 H ternyata menjadi bulan puasa terakhir bersama Kiai Nawawi. Saat setoran terakhir beberapa hari sebelum Ramadhan, Kiai secara khusus memberi titah kepada saya, "Sampean Ramadhan ini ngimam sholat tarawih di masjid ini ya," Beliau menyebut suatu masjid yang tidak jauh dari tempat tinggal kami. "Satu malam setengah juz, 20 rakaat. Nanti ada Pak Polisi yang menelpon." sambung beliau.

Jawaban mutlak yang dapat saya berikan hanya, "Siap, Kiai."

Ternyata Pak Polisi yang dimaksud oleh Kiai adalah ketua masjid tersebut, yang ternyata anggota kepolisian. 

Menjelang malam pertama Ramadhan, Pak Polisi memberi saya briefing, "Tentu kita sudah diperintah Kiai untuk tarawih 20 rakaat. Tapi penumpang kita belum siap kalau sebanyak itu, jadi kita tarawih 8 rakaat saja dengan membaca setengah juz."

Saya menurut saja seperti kerbau tercucuk hidungnya.

Sudah menjadi tradisi di bulan Ramadhan bahwa Kiai selalu mengadakan safari tadarus Al-Qur'an Ramadhan. Sayangnya, saat itu saya sering tidak bisa ikut. Tapi datang juga jadwal safari tadarus beliau di masjid yang lumayan dekat dengan daerah kami, Masjid Darussaid. Saya sempatkan hadir menemui beliau. Malam itu tanggal 15 Ramadhan. Saya cium tangan beliau saat beliau datang. Lalu saya menyimak dari kejauhan.

Menjelang selesai acara, saya lihat dari kejauhan Kiai menyusuri masjid. Saya heran juga, ada apa gerangan beliau memeriksa setiap orang yang duduk. Sampailah beliau di dekat saya. Ternyata beliau sedang mencari saya. Sontak saya berdiri dan beliau bertanya,
"Sudah berapa juz malam ini?"
"Alhamdulillah sudah tujuh juz setengah, Kiai." jawab saya.
"20 rakaat ya?"
Saya tidak bisa jawab, hanya menunduk saja.
"Lanjutkan ya." tutup beliau.
Saya sungkem kepada beliau. Lega rasanya.

Dan itulah Ramadhan terakhir bersama beliau.
Beberapa bulan kemudian, beliau dipanggil keharibaan Allah. 

Yang luar biasa mengejutkan bagi saya, menjelang haul beliau yang pertama, Pakwo (Ustadz Sobirin) tiba-tiba menelpon saya.
"Soleh, ke pondok ya. Ada titipan dari Kiai."

Saya kaget, ada titipan dari Kiai. Padahal beliau sudah wafat hampir setahun yang lalu.

Saya temui Pakwo, dan beliau menyerahkan sebuah amplop bertulis tangan Kiai. 
Saya tanya, "Apa ini, Pakwo."

"Dak tau. Itu dari Kiai waktu Ramadhan kemarin. Maafkelah aku baru teringat." pungkas Pakwo.

Saya menduga-duga isi amplop itu, entah wasiat, atau nasehat, atau catatan ngaji, apalah.
Setelah dibuka, ternyata amplop itu berisi uang. Banyak pula jumlahnya. 

Amplop pusaka dan isinya ini saya simpan lama, sebab bingung hendak diapakan. 
Sampai saat ketika pada suatu acara, nama beliau disebut, Kiagus H. Ahmad Nawawi Dencik, Al-Hafidz. 

Muncullah ide bagaimana cara mentasharufkan amplop Kiai: digunakan untuk mendaftar haji. Dengan harapan, semoga nanti saat saya dimampuhajikan oleh Allah (aamiiin), itu adalah berkah Kiai Nawawi. 

Mudah-mudahan Allah berikan berbagai fadhilah yang telah dijanjikan-Nya untuk ahli Al-Qur'an kepada beliau. Amin...

Posting Komentar