Di Balik Tabir-Episode 8

 


Pasca kejadian itu, setelah berhasil mempertemukan sepasang pengantin dari alam ghaib, ternyata, mau tidak mau, suka atau tidak, aku terpilih jadi anggota ruqyah. Satu-satunya perempuan di antara barisan santri putra. Anggota terdiri dari usia heterogen. Ada yang sudah lulus, ada juga yang masih bersekolah sepertiku.

Kejadian itu, tepatnya pada hari Ahad. Tentu saja kebanyakan orang meliburkan aktivitasnya. Barangkali untuk sekedar beristirahat dari hiruk pikuknya dunia. Ada yang berlibur santai ke pantai, gunung, atau tempat-tempat healing lainnya.

Tak terkecuali aku, hari liburku diajak untuk meruqyah pasien dari luar pondok.

Gadis cantik usia 20 tahun, bersama orang tuanya datang ke pondok kami untuk diruqyah. Gadis itu diseret secara paksa oleh orang tuanya karena terus mengamuk memberontak.

Pada waktu itu, aku sedang santai di kamar, lalu tiba-tiba ada yang meneriaki namaku. Aku mendengar teriakan itu berasal dari luar asrama gedung putri.

“Shaveena!!!”

Aku terkejut dan langsung turun, keluar asrama. Ternyata yang memanggil barusan adalah kak Sayap dan kak Panji. Lalu aku bertanya,

“Ada apa?”

“Di panggil ustadz.”

“Kenapa?”

“Gak tahu tuh.”

Di depan pondok, aku melihat segerombol santri putra berkerumun. Ada apa ini? Kok ramai sekali, sedang mengerumuni apa sih?Setelah di-cek, ternyata gadis cantik yang sedang kerasukan itu pun jadi tontonan gratis.

Gadis yang kerasukan itu, diseret masuk dalam ruangan khusus. Kak Sayap dan kak Panji sebagai lelaki sejati, mana berani menyentuh wanita, karenanya mereka menungguku datang. Dia masih didekap oleh orang tuanya. Saat aku datang, orang tuanya keluar meninggalkan ruangan. Otomatis bergantian aku yang memeganginya. Betapa kuat tenaga dan amukannya itu, lalu aku protes ke ustadz, 

"Veena gak sanggup memegangnya sendirian Ustadz.”

“Lantas kau mau ngajak siapa?”

“Ajak Zahra saja", pintaku.

Kemudian dipanggilkan si Zahra untuk membantuku memegang gadis yang sedang kerasukan itu.

Proses ruqyah dimulai. Badanku rasanya tegang, panas-dingin, jantungku berdetak dengan kencang. Aku coba untuk tetap tenang selama proses itu berlangsung. Ruqyah dipimpin oleh kak Sayap dan kak Panji.

Dalam ruangan itu hanya ada kami berlima yang menangani pasien itu, yaitu Aku, Zahra, kak Sayap, kak Panji, dan kak Elang. Ustadz sedari tadi meninggalkan ruangan, beliau menyerahkan sepenuhnya pada kami.

Semua bertugas di bidang masing-masing. Kak Elang khusus menyipratkan air bidara. Kak Sayap dan kak Panji berdzikir membacakan ayat al-Quran, sedangkan aku dan Zahra bertugas memeganginya, menahan gerakan amukan gadis itu.

Tanpa peduli, tiba-tiba saja gadis itu mengamuk, memberontak, tenaganya sangat kuat. Aku membatin, ya Allah gimana ini?

Tiba-tiba gadis itu mengaum seperti harimau. Suaranya begitu mengerikan. Suaranya bukan lagi seperti manusia, berubah jadi suara hewan betulan. Auman yang sangat menggelegar.

Aauuummm raawwwrr…!!!

Secepat kilat pegangan kami terlepas, kami semua tak habis pikir, tiba-tiba gadis itu pun meloncat ke atap plafon ruangan. Badannya menempel di atas sana. Betapa terkejutnya kami menyaksikan itu. Kami terperanjat dan jeri melihatnya. Situasi jadi kacau, semua panik dan bingung harus gimana pada kondisi yang mencekam itu.

“Kau sih, sudah kubilang pegang erat, malah lepas.” Kata kak Sayap.

“Ya mau gimana, dia tiba-tiba meloncat.”

Akhirnya bacaan pun makin dikeraskan, lalu gadis itu tiba-tiba turun mau keluar membuka pintu yang tidak dikunci.

Aku dan Zahra dengan gesit menarik kakinya agar tidak keluar.

Brakk!!!

Gadis itu tumbang dengan keras.

"Waduh", aku membatin, itu pasti sakit sekali, tapi mau gimana lagi.  Kemudian kami dekap gadis itu dengan sekuat tenaga. Aku memegang kepala dan tangannya, sedangkan Zahra memegang bagian kakinya sampai dia tak bergerak.

Gadis itu terus mengaum lalu tiba-tiba menatap mataku. Harusnya dalam situasi seperti itu, usahakan jangan menatap mata pasien karena bisa terkena serangan balik. Saat itu aku tak sengaja bertatapan dengannya. Matanya berubah warna menjadi kuning menyala dengan pupil bergaris seperti mata harimau. Dengan cekatan aku tutup matanya menggunakan telapak tanganku. Dia lalu menggigit tanganku. Sontak aku kaget, maka dengan segera aku menarik tanganku. Gigitannya cukup sakit, tapi tak sampai berdarah.

"Ah kau ini mbak!" Ingin rasanya ku tonjok  saat itu juga, gerutuku pada diri.

Bacaan itu terus berlanjut sampai gadis itu melemahkan tenaganya.

Tak lama kemudian, badannya terlihat lemas, berontaknya berkurang. Aku bertanya dengan kak Panji.

“Kak, sudah keluar ya?”

“Belum.”

Bacaan tanpa henti terus dilantunkan. Selang beberapa menit setelahnya, gadis itu kembali mengamuk dan mengaum.

Aku lengah, jadi gelagapan untuk memeganginya. Alhasil aku menggunakan kaki untuk mendekap gadis itu.  Kak Sayap dan kak Panji yang sedang membaca dzikir tertawa melihat aksiku. Aku menyuruhnya diam agar mereka kembali fokus membaca ayat.

Setelah energi hampir terkuras habis, akhirnya gadis itu lemas dan tersadar. Dia bingung dan bertanya, kenapa aku di sini? pelan-pelan kami membenarkan posisi duduknya lalu Zahra memberinya minum air bidara. Setelah itu dia muntah.

Aku tak sadar bahwa jin itu telah keluar. Yang ku lihat hanya bekas sisa gumpalan sinar yang baru saja keluar dari ventilasi jendela.

Akhirnya gadis itu bangun seutuhnya. Lalu kami keluar disambut dengan pertanyaan ustadz yang sudah menunggu sedari tadi.

"Sudah ya? Gimana tadi, apa yang ada dalam badannya?”

“Harimau, Ustadz." Jawab kak Panji.

“Siapa yang ngirim?”

“Mantannya.”

“Kasih dia air bidara 1 botol.”


Demikian, aksi heroik Veena, Dkk.

Ayesha yang menyimak ceritanya sedari tadi berdecak kaget, terheran-heran, dan berulang kali mengucap istighfar.

Betapa tidak, lewat kisah yang diceritakan oleh Veena ini membuka pikirannya, dan sedikit banyak telah menjawab teka-teki misteri dan rasa penasarannya yang telah ia kubur sejak 10 tahun lalu.

Ayesha awalnya sering menonton film atau membaca cerita horor, tapi susah untuk ia percaya, kecuali mendengarnya langsung dari temannya sendiri, orang terdekat, entah dapat topik dari mana, tiba-tiba nyasar ke horor.

Adalah kali kedua Ayesha mendengar kisah ini secara utuh. Awalnya tanpa diminta, Veena bercerita begitu saja, karena tertarik dengan pengalaman Veena, Ayesha pun meminta izin untuk dijadikan cerpen. Maka jadilah mereka mengatur waktu, sengaja nongkrong di sebuah kafe untuk menceritakan ulang.

Semua ini sudah atas persetujuan dan izin yang punya cerita, namun ia tak ingin orang tau identitasnya. Maka kita sebut saja Veena. Remaja yang terpaksa indigo bukan tanpa sebab, tapi banyak cerita di balik itu.

Nantikan keseruan Veena bersama hantu-hantu lainnya di episode selanjutnya!


Bersambung...

x

Posting Komentar