Buku itu terbit pada tahun 2021. Selama kurang dari 3 bulan, sebuah
kelompok kecil terdiri dari 5 orang, yang kemudian menyebut diri sebagai
Tim "Nawawi Dencik Center", berjibaku dan berbagi tugas untuk
merancang, menyisir, mengejar dan atau mewancarai kontributor, menulis
draft hasil wawancara, mengedit dan menyelaraskan bahasa, menyesuaikan
tata tata letak, menggarap desain sampul, mengurus International Serial
Book Number (ISBN), mengupayakan pembiayaan, mencetak hasil final, dan
kemudian membagikannya secara gratis pada jamaah yang hadir pada
peringatan 100 hari wafatnya sang Kiai.
Di tengah segala
kerumitan yang meliputi proses penerbitan, terutama tepat pada fase di
mana buku sudah harus berjudul, kami ditumbuk oleh ganjalan yang cukup
keras. Rapat tim tidak sukses menghasilkan satu kalimat pun. Ujungnya,
rapat memutuskan untuk menyerahkan persoalan ini kepada saya, yang
memang ditahbiskan (atau menahbiskan diri, hehehe) sebagai kurator.
Tentu
saja tugas itu membuat beban di pundak saya terasa kian berat. Betapa
tidak, buku ini akan menjadi potret pertama (pasca wafat) dari Kiai
Nawawi Dencik yang mungkin sudah ditunggu oleh para pencintanya.
Sehingga dengan demikian, Tim Nawawi Dencik Center mesti menghasilkan
naskah yang akan dipertanggungjawabkan di depan Mahkamah para Muhibbin,
yang beberapa diantara mereka dapat dikategorikan sebagai pecinta garis
keras.
Lebih dari itu, kami sadar bahwa kami sedang melukis sosok
besar. Ketidakakuratan diksi, sekalipun pada hanya beberapa frase dan
atau fonem serta suku kata saja, akan membuat cedera pada gambaran
tentang dan bahkan bisa jadi juga nama Kiai.
Sesak! Dan beberapa hari kepala saya dipenuhi tanda tanya.
Kadang
saat sendirian, saya berupaya untuk memfokuskan perhatian, sedemikian
rupa sehingga orang yang sempat melihat waktu itu akan menduga saya
sedang bersemedi, tetapi tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.
Sampai
di suatu malam, di tengah kondisi yang hampir putus asa, saya mengambil
air wudhu, lantas berusaha untuk dapat melakukan shalat dua rakaat.
Saya lalu, dengan maksud untuk sekali lagi memfokuskan perhatian,
berupaya menggali inspirasi. "Kalau belum ada juga, ya sudahlah, pakai
terma apa saja," demikian batin saya.
Satu jam. Dua jam. Tapi
pergulatan pikiran itu masih tidak melahirkan apapun. Saya pun tinggal
pasrah. Sepertinya besok, dimana judul sudah harus diputuskan, saya
hanya harus melontarkan apa yang terlintas di pikiran saja.
Saya pun tertidur.
Tetapi,
di tengah kondisi seperti berada di ambang batas antara tidur dan
terjaga, sekonyong-konyong muncul kelebatan wajah Kiai di depan saya.
Bukan hanya itu, saya juga tiba-tiba mendengar suara yang seperti
berbisik ke telinga:
"Hafizhul Quran, Khadimul Ummah"
Pagi
hari, sewaktu saya terbangun dari tidur, frase itu masih menancap
sangat kuat di kepala. Dan tidak perlu penjang lebar, saya kemudian
memutuskan, "Ini judul bukunya!" Belakangan, setelah cukup punya
kesadaran untuk membuat analisa, saya pikir frase tersebut memang sudah
sangat tepat (mungkin sudah jami' dan mani' dalam istilah mantiq) untuk
dipakai mendefinisikan Kiai Nawawi.
Maka lahirlah judul, "Kiai
Nawawi: Hafizh al-Quran, Khadim al-Ummah". Judul itu menjadi
ilham yang tanpa henti saat saya kemudian menuliskan biografi singkat
Kiai Nawawi dalam pembukaan buku yang sama. Frase "Hafizh al-Quran, Khadim al-Ummah" juga menjadi inspirasi saat kami semua menggubah mars dan
hymne untuk Sekolah Tinggi Ilmu al-Quran (STIQ) al-Lathifiyyah
Palembang.
Akhirnya, memproduksi
buku tentang Kiai Nawawi adalah suatu proses yang cukup ajaib. Kita
semua seperti diberi kemudahan sedemikian rupa untuk berhasil
merampungkannya, dimulai dari nol sama sekali. Sesuatu yang akan sulit
terwujud hanya dalam tempo kurang dari 3 bulan, menimbang bahwa banyak
dari kontributor buku itu adalah juga sosok-sosok besar yang juga
memiliki aktifitas yang sangat padat.
Mengingat Kiai, saya jadi
teringat Pak Okta (Okta Firmansyah, penyunting buku ini, yang pernah
berkhidmah di STIQ al-Lathifiyyah, dan sekarang mengambah tugas di
Universitas Andalas, Padang). Dialah yang bersikukuh menyebut buku
tentang Kiai Nawawi ini sebagai kumpulan Festschrift, bukan Obituari.
Festschrift adalah istilah bahasa Jerman untuk sebuah buku penghormatan
bagi sosok yang mulia dan disajikan selama mereka hidup. Sebaliknya,
obituari adalah jenis buku yang sama, tetapi ditulis pada saat yang
bersangkutan telah wafat.
"Sebab Kiai Nawawi akan selalu menjadi
sosok yang hidup bagi kami dan kita semua," begitu kurang lebih
jawabannya saat orang-orang bertanya.
Saya sangat setuju. Kiai
Nawawi sendiri, beberapa kali terutama dalam penjelasan-penjelasannya
ihwal kedudukan para ulama yang sudah wafat dan bagaimana sikap kita
atas mereka, seringkali mengutip ayat Wa laa taquuluu limai yuqtalu fii
sabiilil laahi amwaat; bal ahyaaa'unw wa laakil laa tash'uruun
(Dan
janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah telah
mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya).
Ya, Kiai Nawawi masih dan akan terus hidup!
Note:
Dalam
tulisan ini saya merasa perlu untuk melayangkan penghormatan, yang
setinggi-tingginya kepada Nawawi Dencik Center: satu tim kecil yang
tidak pernah membicarakan honorarium, tetapi bekerja dengan sangat
militan dan efektif. Mereka adalah, tentu saja saya sendiri sebagai
Kurator, Okta Firmansyah sebagai Penyunting, Eko Fajar Marsilin dan
Febriansyah sebagai Penggali Data dan Pewawancara, dan Listiananda
Apriliawan sebagai Pentranskripsi.